Selasa, 13 Maret 2012

ucapan yang baik

1. Tepat waktu
Artinya bahwa sebuah ucapan yang baik adalah sesuai dengan kondisi. Terkadang kita dalam berucap tidak sesuai dengan kondisi walaupun ucapan tersebut tidak bermaksud buruk, mungkin saja menyinggung seseorang. Contohnya adalah seseorang yang sedang dalam keadaan dipengaruhi emosi negatif (marah), terkadang kita malah menyiram minyak pada api, walaupun kita bermaksud untuk menenangkan orang tersebut. Biasanya hal tersebut terjadi karena mungkin masalah tersebut berhubungan dengan kita. Jadi Sang Buddha mengajarkan bahwa kita perlu waspada dalam ucapan agar sesuai dengan kondisi dan tepat waktu.
2. Benar (sesuai dengan kenyataan)
Ucapan inilah yang paling sulit kita lakukan. Kecenderungan kita adalah berucap sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kita cenderung akan mengucapkan
sesuatu dengan membelokkannya sadar ataupun tidak sadar. Ada sebuah cerita dimana seorang penganut Buddha ingin menyakinkan temannya dalam belajar ajaran Buddha dengan mengatakan bahwa wihara yang ia kunjungi begitu ramai, berjumlah ratusan. Padahal kenyataannya hanya sekitar 80. Ia tanpa sadar telah membuat ucapan tidak benar, walaupun
halus. Secara psikis hal tersebut akan bertumpuk menjadi sesuatu yang biasa dan dianggap ‘benar’. Buddha mengajarkan bahwa tidak ada kebenaran dibalik ucapan yang tidak jujur, melebih-lebihkan, mengurang-ngurangkan. Ucapan harus apa adanya. Jika memang 80 orang, katakana 80 orang. Jangan 30 atau 100 orang.
3. Lembut
Artinya disini adalah ucapan yang tanpa bersifat keras atau beremosi negatif. Seringkali kita tanpa sadar terbawa oleh kata-kata kasar. Lembut juga mengandung makna halus. Artinyabiasakan diri kita dengan berucap lembut dan tenang. Pikirkan dahulu akibat dari ucapan yang akan kita keluarkan. Bahasa-bahasa kasar maupun tidak senonoh sebaiknya tidak kita ucapkan.
4. Bertujuan
Jelas sebuah ucapan menjadi bermakna ketika mempunyai tujuan atau alasan dibalik ucapan yang kita lakukan. Bertujuan juga mengindikasikan ada manfaat
dari ucapan yang kita lakukan. Ketika melihat teman sedang lesu, dengan ucapan kita dapatmenyemangatinya. Artinya ucapan tersebut memang bertujuan
untuk membantu. Sesuatu yang positif dan sangat dianjurkan oleh Buddha dalam melatih dirimencapai kedamaian. Seringkali kita menjadi korban ucapan tidak bermakna yang kita dengar dari televisi. Kita menjadi perantara ucapan tidak
bermakna. Gosip tentang artis kita lakukan padahal tidak bermanfaat. Malah bisa jadi kita menyebarkan sesutau yang tidak benar dengan gosip. Sehingga bukan lagi ucapan kosong, namun telah menjadi ucapan yang menfitnah dan telah melanggar sila ke-4 Pancasila Buddhis.
5. Berdasarkan cinta kasih
Ucapan ini lebih merupakan wujud pikiran yang dipenuhi cinta kasih. jadi dengan landasan bagi kebahagiaan seseorang, kita melakukan sebuah ucapan. Bukan dengan kebencian sebuah ucapan kita lakukan. Sang Buddha menyadari betapa pentingnya cinta kasih bagi setiap orang sehingga dalam wujud ucapan pun, cinta kasih dapat dipancarkan. Kata-kata yang menyejukkan seseorang, menenangkan seseorang, membahagiakan seseorang, membangkitkan seseorang
adalah wujud ucapan yang berdasarkan cinta kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar